Showing posts with label Art. Show all posts
Showing posts with label Art. Show all posts

Tuesday, February 28, 2012

Culture :)

         Lukisan dengan judul “Rasa Isin” ini dikarang oleh Nasirun yang lahir di Cilacap, pada tanggal 1 Oktober 1965. Pria yang sekarang ini berumur 41 tahun, banyak terlibat di dalam berbagai pameran bersama, dan beliau juga memperoleh berbagai penghargaan dari beberapa daerah di Indonesia.
         Background dengan warna merah muda keungu-unguan yang dipilih Nasirun membuat setiap orang yang pertama kali masuk ke ruang pameran lukisan di perpustakaan umum Malang amat terkesan, apalagi dengan ukuran kanvas yang super gede atau berkisar antara 200 x 300 cm. Dengan goresan cat minyak, beliau membuat konsep karya yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat sekarang. Menurutnya masyarakat sekarang masih menjunjung tinggi rasa isin. Rasa isin adalah nilai yang Universal tetapi juga bersifat Kultural, artinya di sebuah masyarakat tertentu, rasa malu bisa dijunjung dengan tinggi daripada pada masyarakat lainnya. Pada masyarakat tertentu, rasa malu demikian memadat, dan menduduki ranking yang tertinggi sehingga menjadi prinsip hidup yang amat dihormati. Begitulah misalnya yang terjadi di pulau Jawa.
         Dalam bahasa Jawa malu adalah isin, isin berarti malu-malu, merasa bersalah, dan sebagainya. Menurut Nasirun, belajar untuk merasa malu adalah langkah pertama menuju ke arah kepribadian Jawa yang matang. Sebaliknya penilaian ora ngerti isin merupakan suatu kritik yang amat tajam. Di dalam masyarakat Jawa, rasa isin tidak dapat dilepaskan dari sikap hormat, menurut Magnis Suseno, malu dan hormat itu merupakan satu kesatuan, “Orang Jawa merasa malu apabila ia tidak dapat menunjukkan sikap hormat yang tepat terhadap orang yang pantas dihormati”. Perasaan malu dapat muncul dalam semua situasi sosial.
         Dengan adanya pameran lukisan yang diadakan di perpustakaan kota Malang ini, banyak masyarakat terutama para generasi muda yang menjadi mengerti bahwa ternyata pelukis-pelukis di Indonesia tidak kalah dengan para pelukis Mancanegara dan mereka juga dapat mengetahui bahwa membuat lukisan itu tidaklah mudah seperti halnya kita membalikkan telapak tangan, tetapi kita juga harus memikirkan setiap detail sapuan kuas yang digoreskan di atas kanvas karena hal itu  dapat mempengaruhi nilai jual lukisan.
   

Politik Tragis

Sebuah lukisan karya Hadi Soesanto, pria asal Jember yang lahir pada tanggal 25 Mei 1968 ini berjudul ACCESSORY.
Lukisan yang beroleskan dengan acrylic sebagai pewarnanya ini lebih ditujukan pada etika dan budi pekerti. Menurut pria berumur 41 tahun ini, sejak dimulainya era reformasi, masyarakat berharap bahwa norma-norma yang digali oleh para pendahulunya dapat di-terapkan kembali. Tapi kenyataan-nya, etika dan budi pekerti itu di-tempatkan lebih rendah dari harga diri. Simbol-simbol kenegaraan yang telah diciptakan dengan susah payah, kini hanya sebagai hiasan belaka.
Di sini Hadi Soesanto juga menyindir para kaum rai gedheg melalui lukisannya ini.
Tampak seorang perempu-an sexy. Berbalut dengan busana atas yang sangat minim, begitu pula dengan celana jeans yang di-kenakannya, membuat publik men-duga bahwa ia adalah seorang artis yang bisa tampil di depan publik. Perlu diperhatikan pula pada bagian saku celana jeansnya yang kelewat pendek. Disana terselip simbol Pancasila. Jelas dengan demikian ia ingin mencampurkan politik dengan kesexy-annya.
Segera terasa pula jangan-jangan lukisan ini merupakan sindiran bagi para artis yang belum lama ini banyak terjun ke dunia politik. Banyak orang mem-pertanyakan kemampuan mereka di dunia politik. Tak sedikit pula publik yang meragukan ketrampilan mereka di dunia politik. Jangan-jangan mereka hanya menjual kecantikannya untuk berpolitik. Ibaratnya, asal sudah mengantongi lambang Pancasila di saku celananya yang sexy, ia sudah layak untuk berpolitik. Jika benar demikian, berarti politik kita benar-benar tragis.
Tak dipungkiri pula bahwa masyarakat pun akan sulit untuk menerima orang-orang yang seperti itu. Bagaimana mungkin seorang yang berpakaian seperti itu akan diterima dengan mudahnya di kalangan masyarakat? Di kalangan masyarakat yang masih sangat menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan agama. Rasanya akan sangat sulit, meski tak sedikit pula yang mau menerima mereka.